Entri yang Diunggulkan

makalah manajemen keuangan tentang pasar efisien

KATA PENGHANTAR Alhamdulillah dengan rasa syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan kami kesehatan sehingga kami bisa menyele...

Kamis, 30 Maret 2017


BAB I
PENDAHULUAN

1.1           Latar belakang
Pada bab sebelumnya kita telah mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar. Faktor-faktor tersebut antara lain laju inflasi, suku bunga, tingkat pendapatan, kontrol pemerintah, ekspektasi dan interaksi antarfaktor. Seperti yang telah kita ketahui semua laju inflasi memiliki dampak yang besar terhadap nilai tukar. Perubaan dalam laju inflasi dapat mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing, dengan demikian mempengaruhi nilai tukar. Dari hal tesebut kita dapat melihat inflasi dan nilai tukar memiliki hubungan.
Faktor yang memiliki dampak atau pengaruh besar terhadap nilai tukar adalah suku bunga. Perubahan dalam suku bunga relatif mempengaruhi investasi dalam dalam sekuritas-sekuritas asing yang selanjutnya akan mempengaruhi permintaan dan penawaran tehadap valuta asing dan nilai tukar. 
Dari kedua penjelasan tentang faktor diatas keduanya memiliki hubungan terhadap nilai tukar. Dalam makalah ini kami akan mengupas lebih dalam mengenai hubungan antara inflasi suku bunga dan nilai tukar. Sesuai dengan teori yang terdapat didalam keuangan internasional. Sekaligus membandingkan setiap teori tersebut.
1.2           Rumusan Masalah
1.    Bagaimana teori parietas daya beli dan implikasi-implikasinya menjelaskan perubahan nilai tukar?
2.    Bagaimana teori intenational fisher efect dan implikasi-implikasinya menjelaskan perubahan nilai tukar?
3.    Bagaimana perbandingan teori PPP, IFE, dan teori paritas suku bunga (IRP)?

1.3 Tujuan
1.    Mengetahui teori paritas daya beli dan implikasi-implikasinya terhadap perubahan nilai tukar.
2.    Mengetahui teori internasional fisher effect dan implikasi-implikasinya terhadap perubahan nilai tukar.
3.    Mengetahui perbandingan antara PPP, IFE, dan teori paritas suku bunga (IRP).
BAB II
PEMBAHASAN

            Laju inflasi dan suku bunga dapat menimbulkan dampak-dampak yang signifikan terhadap nilai tukar. Karena sangat penting hal ini sangat perlu dibahas. Dalam hal ini ada 3 teori yang menjelaskan hubungan kedua faktor ini dalam mempengaruhi nilai tukar. Teori tersebut seperti Teori Paritas Daya Beli (PPP), Teori International Fisher Effect (IFE) dan Teori Paritas Suku Bunga (IRP). Pada makalah akan dibahas mengenai ketiga teori tersebut secara rinci.

2.1 Teori Paritas Daya Beli
            Laju inflasi biasanya bervariasi antar negara, yang menyebabkan pola-pola perdagangan internationa dan nilai tukar yang menyesuaikan diri mengikuti gerak inflasi. Salah satu teori yang membahas tentang hal ini adalah teori paritas daya beli. Teori ini menyatakan bahwa nilai tukar akan menyesuaikan diri dari waktu ke waktu untuk mencerminkan selisih inflasi antara dua negara, akibatnya daya beli konsumen untuk membeli produk-produk domestik yang akan sama dengan daya beli mereka untuk membeli produk-produk luar negeri.
           
Teori ini melihat hubungan nilai tukar dan inflasi dimana nilai tukar akan menyesuaikan diri dari waktu ke waktu hingga mencerminkan selisih inflasi antar negara. Dari penjelasan tersebut ada hubungan yang berbanding lurus dimana untuk mengimbangi laju inflasi maka nilai tukar harus dapat mencerminkan selisih dari laju inflasi tersebut agar perbedaan harga barang yang mahal tidak terjadi. Hal ini bertujuan agar konsumen tidak berubah untuk mengkonsumsi produk dari negara lain sehingga produk tersebut laku dipasar yang terkena damapak laju inflasi.





2.1.1 Formula Paritas Daya Beli
Formula Paritas Daya Beli adalah atau Untuk formulasi yang atas Yaitu persentase perubahan nilai tukar kurang lebih harus sama dengan selisih laju inflasi cukup kecil. Formula ini tepat jika laju inflasi cukup kecil.
Untuk formulasi yang dibawah melihat hubungan antara laju inflasi relatif dengan nilai tukar menurut teori paritas daya beli. Perhatikan jika Ih<If, maka ef haruslah positif hal ini menyiratkan bahwa valuta asing yang dimaksud akan mengalami apresiasi terhadap valuta domestik pada saat inflasi domestik melebihi inflasi luar negri. Begitupun juga sebaliknya jika Ih>If maka akan negatif. Artinya ini valuta asing akan mngalami depresiasi pada saat inflasi dinegara tersebut melebihi inflasi domestik 

2.1.2 Bentuk  Paritas Daya Beli (PPP)
2.1.2.1. Absolute Purchasing Power Parity
Salvatore (2011 dikutip dalam internet) mengungkapkan bahwa teori paritas daya beli versi absolut merupakan titik ekuilibrium dari nilai tukar antar dua negara dan rasio tingkat harga dari kedua negara yang bersangkutan.
Menurut Amalia (2007, dikutip dalam internet) teori paritas daya beli versi absolut pada dasarnya adalah perbandingan nilai satu mata uang terhadap mata uang lain yang ditentukan oleh tingkat harga pada masing- masing negara.
Menurut Jeff Madura bentuk absolut teori ini menyatakan bahwa harga dari 2 produk yang homogen di negara-negara yang berbeda akan sama jika diukur oleh valuta yang sama. Jika terjadi perbedaan harga pada valuta yang sama setelah melakukan pengukuran maka harga yang satu akan mendekati harga yang lain. Sebagai contoh jika amerika dan cina memproduksi produk yang sama dan harga di amerika lebih rendah daripada di china jika diukur dengan valuta yang sama maka permintaan di negara amerika akan meningkat dan akan menurunkan permintaan dinegara China. Konsequensinya nila tukar antara kedua negara akan berubah. Namun ada beberapa faktor yang akan melemahkan teori absolut ini yakni biaya tranportasi, bea masuk dan kuota. Karena pengaruh dari faktor tersebut akan menimbulkan perbedaan harga walaupun pada valuta yang sama.


2.1.2.2. Relative Purchasing Power Parity

Paritas daya beli bentuk relatif mempertimbangkan bahwa dengan adanya ketidaksempurnaan pasar, seperti adanya bea masuk, biaya transportasi, dan kuota yang berbeda di berbagai negara, harga sejumlah produk pada negara yang berbeda tidak selalu sama jika diukur dalam mata uang yang sama.
Salvatore (2011, dikutip dalam internet) mengungkapkan bahwa “Relative purchasing power parity postulates that the change in the exchange rate over a period time should be proportional to the relative change in the price levels in the two nations over the same period.”
Eiteman, Stonehill, dan Moffet (2010 dikutip dalam internet) berpendapat bahwa paritas daya beli relatif tidak secara khusus membantu menentukan kurs saat ini, tetapi perubahan relatif harga-harga diantara kedua negara selama suatu periode menentukan perubahan nilai tukar selama periode itu.
Amalia (2007, dikutip dalam internet) mengungkapkan bahwa pada paritas daya beli versi relatif, apabila terjadi perubahan harga di kedua negara, maka nilai tukar antar kedua negara tersebut juga harus mengalami perubahan juga. “Paritas daya beli versi relatif juga dapat megukur apakah mata uang tersebut overvalue atau undervalue”
            Menurut Jeff Madura teori bentuk relatif dari teori paritas  daya beli, teori ini menyatakan bahwa laju perubahan indeks harga di dua negara akan hampir sama jika diukur memakai valuta yang sama sejauh biaya transportasi dan hambatan-hambatan perdagangan tidak mengalami perubahan. Dalam versi alternatif yang memperhitungakan faktor ketidaksempurnaan pasar seperti biaya tranportasi,tarif dan kuota. Dalam versi ini mengakui bahwa ketidaksempurnaan pasar ini dapat membuat harga pada produk yang sama dinegara berbeda ini tidak sama sama jika meenggunkan valuta yang sama. Namun teori relatif PPP mengungkapkan indeks harga dari produk yang sama di negara yang berbeda itu bisa jadi tidak jau berbeda  jika diukur dengan vauta yang sama, selama tranportasi dan proteksi perdagan tidak berubah. Sebagai contoh, ada dua negara yang melakukan perdangan dengan produk yang sama dengan asumsi awal laju inflasi berada pada titik 0 dan nilai tukar berada pada titik ekuilibrium. Seiring berjalannya waktu kedua negara mengalami inflasi, supaya teori PPP ini berfungsi maka kedua negara haru menyesuaikan nilai tukar agar dapat engimbangi perbedaan aju inflasi sehingga perbedaan harga produk yang berbeda tidak akan terjadi sehingga konsumen pun tetap setia pada produk negara tersebut.
2.1.3 Analisis Grafik PPP
Dimana semakin titik-titik tersebut mendekati atau pun berada pada satu garis lurus PPP maka hal ini menandakan bahwa nilai tukar kedua negara berada di level aman. Sehingga daya beli kedua akan sama harga tidak jauh beda. Ini akan mendukung teori satu harga.
2.1.4 Penyebab Tidak Terjadinya Paritas Daya Beli Tidak Terjadi
1.      Hambatan perdagangan internasional
karena adanya biaya transportasi. Biaya ini menyebabkan perbedaan harga untuk barang yang sama di pasar yang berbeda. Dengan kata lain, hal ini menyimpang dari hukum satu harga dan akan menyebabkan kondisi arbitrase, jika harga yang berlaku ternyata lebih tinggi daripada harga ditambah biaya transportasi. Dalam keadaan demikian, negara yang menetapkan harga lebih tinggi akibat adanya biaya transportasi akan memiliki kurs yang bernilai lebih tingi (overvalued) daripada ketentuan kurs berdasarkan PPP.
Selain biaya transportasi, hambatan perdagangan berupa tarif dan kuota juga menyebabkan kegagalan konsep PPP. Hampir setiap negara memberlakukan sistem tarif terhadap komoditi yang akan masuk ke negaranya. Hal ini ditujukan untuk melindungi produksi dalam negeri. Proteksi yang banyak dilakukan adalah proteksi terhadap sektor pertanian. Tarif merupakan pengenaan pajak bagi komoditi impor, sedangkan kuota merupakan pembatasan jumlah komoditi impor. Baik tarif dan kuota menyebabkan kenaikan harga komoditi impor. Di negara yang memberlakukan tarif atau kuota, kurs yang berlaku akan lebih tinggi dari ketentuan konsep PPP (overvalued).
Perbedaan pemberlakuan pajak masing-masing negara juga merupakan faktor yang menyebabkan kegagalan konsep PPP. Negara yang menerapkan pajak lebih tinggi dibanding negara lain memiliki kurs berlaku yang lebih tinggi dari kurs yang ditentukan dalam konsep PPP. Hal ini terjadi karena harga komoditi dalam negeri akan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga komoditi yang sama di luar negeri.
                                                                               
2.      Komoditi yang tidak diperdagangkan dalam perdagangan internasional,
Perdagangan jasa merupakan komoditi yang tidak diperdagangkan secara internasional, namun dimasukkan dalam perhitungan indeks harga. Di negara-negara maju, harga jasa, misalkan biaya sewa dan tenaga kerja, lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Hal inilah yang menyebabkan penilaian kurs valuta asing yang terlalu rendah (undervalued) di negara-negara berkembang, karena indeks harga di negara maju jauh lebih tinggi daripada negara berkembang.

3.      Persaingan yang tidak sempurna (imperfect competition)
Adanya kompetisi yang tidak sempurna menyebabkan perbedaan harga barang yang diperdagangkan di setiap negara. Perbedaan ini mengakibatkan penyimpangan konsep PPP. Perbedaan harga barang yang diperdagangkan di setiap negara dapat terjadi karena perusahaan memiliki kemampuan untuk menerapkan harga yang berbeda di pasar yang berbeda. Teori diskriminasi harga menyatakan bahwa suatu perusahaan akan memaksimalkan keuntungan dengan meragamkan harga berdasarkan elastisitas permintaan suatu barang. Elastisitas permintaan menunjukkan bahwa bagaimana perubahan jumlah barang yang diminta apabila harga barang tersebut mengalami perubahan. Jika harga suatu barang meningkat 10 persen dan jumlah barang yang diminta turun kurang dari 10 persen, maka permintaan untuk barang ini dikatakan inelastis. Jika harga naik sebesar 10 persen, dan jumlah barang yang diminta turun lebih dari 10 persen, maka permintaan untuk barang ini dikatakan elastis. Penerimaan penjualan meningkat mengikuti kenaikan harga barang yang memiliki permintaan inelastis dan akan turun mengikuti kenaikan harga barang yang memiliki permintaan elastis. Perusahaan yang menerapkan diskriminasi harga dapat memaksimalkan penerimaannya dengan menerapkan harga yang lebih tinggi di negara yang memiliki permintaan inelastis dibandingkan dengan negara yang memiliki permintaan lebih elastis. Hal ini akan mengakibatkan penilaian kurs yang terlalu tinggi (overvalued) di negara yang memiliki permintaan elastis.

4.      Ketidakseimbangan neraca transaksi berjalan (current account imbalances),
Alasan lain yang menyebabkan harga barang dapat berbeda di setiap negara adalah karena kurs merefleksikan perdagangan internasional bukan hanya menyangkut barang dan jasa tapi juga aktiva finansial (financial assets). Pendekatan PPP dalam mengevaluasi kurs hanya berdasarkan peranan perdagangan komoditi internasional dan mengabaikan perdagangan aktiva. Padahal perdagangan aktiva juga memiliki peranan penting dalam menentukan penawaran dan permintaan valuta asing. Pada gilirannya, aliran aktiva antar negara berkaitan dengan posisi neraca transaksi berjalan masing-masing negara. Neraca transaksi berjalan mengukur aliran barang, jasa, pendapatan investasi dan transfer unilateral internasional. Negara yang memiliki defisit transaksi berjalan akan menarik kapital dari negara lain untuk menutup defisit. Dalam hal ini, negara yang melakukan lebih banyak pembelian dari negara lain (impor) daripada penjualan (ekspor) tersebut akan membiayai defisitnya dengan pinjaman dana dari pihak lain. Sebaliknya, suatu negara yang memiliki surplus transaksi berjalan akan melakukan investasi di negara lai\n. Negara dengan defisit transaksi berjalan cenderung memiliki nilai kurs yang lebih tinggi (overvalued) dibandingkan dengan ketentuan konsep PPP.

5.      Dalam jangka pendek, tingkat harga cenderung sticky.
Konsep PPP tidak dapat bekerja secara seketika, tetapi memerlukan waktu yang cukup lama, karena dalam jangka pendek tingkat harga cenderung sticky. Sehingga dalam jangka pendek, konsep PPP mengalami penyimpangan. Konsep PPP hanya menunjukkan hubungan keseimbangan jangka panjang antara kurs dengan tingkat harga.
Dalam pengujian paritas daya beli peride dasar yang dipilih harus mencerminkan suatu posisi yang ekuilibrium karena periode berikutnya akan di evaluasi dalam perbandinganya dengan periode dasar. Namun hal tersebut sangat sulit untuk memilih suatu periode dasar. Hal inilah yang mendorong penghapusan sistem nilai tukar tetap yakni kesulitan dalam mengidentifikasi nilai tukar ekuilibrium.
2.2 Teori Dampak Fisher International
            Teori international fisher effect merupakan satu teori daam keuangan international. Teori ini menjelaskan hubungan suku bunga dengan nilai tukar. Teori IFE menyatakan bahwa suku bunga nominal terdiri dari bunga rill dan ekspektasi inflasi. Teori ini memiliki keterkaitan dengan teori PPP dimana ada kaitannya dengan laju infasi. Suku bunga bebas-resiko nominal mengandung tingkat pengembalian ril dan ekspektasi inflasi. Setiap investor menginginkan tingkat pengembalian suku bunga rill yang sama, perbedaan suku bunga terjadi pada laju iju inflasi di suatu negara. Dimana pada teori PPP sudah dijelaskan perbedaan nilai tukar dipengaruhi oleh laju inflasi. jika semua negara memilika nilai suku bunga rill yang sama, perbedaan yang terjadi pada suku bunga nominal berasal dari tingkat ekspektasi inflasi.
            Teori IFE menyatakan bahwa valuta-valuta asing yang memiliki suku bunga relatif tinggi akan mengalami depresiasi karena suku bunga nominal yang tinggi menandakan ekspektasi inflasi yang tinggi pula. Sebagai contoh asumsikan bahwa investor-investor di AS memeprediksi laju inflasi 6% selama 1 tahun, dan pengembalian suku bunga rill sebesar 2 % maka suku bunga nominal yang dari sekuritas haruslah sebesar 8%. Iika investor diseluruh negara meminta tingkat pengembalian yang sama yang menjadi pembeda di seitap ngara terlatak pada laju inflasi.
            Asumsikan suku bunga di AS sebesar 8% sedangkan dijepang sebesar 5%. Dengan tingakat pengembalian bunga rill sebesar 2% ini artinya selisih tingkat inflasi AS dan Jepang sebesar 3%. Dimana dalam teori PPP yang berarti AS akan mengalami depresiasi sebesar 3%. Jika hal ini terjadi maka investor Jepang tidak akan mendapatkan keuntungan yang dia harapkan malah akan mendapatkan keuntungan sama seperti yang ada dinegaranya. Karena menurut teori PPP laju inflasi mempengaruhi nilai tukar sehingga terjadi penurunan nilai ketika ditukarkan ke mata uang jepang.
2.2.1 Derivasi Dampak Fisher International
          Hubungan antara seisih suku bunga antar dua negara dengan ekspekstasi laju inflasi menurut teori IFE memiliki derivasi sebagai berikut. Pertama, pengembalian aktual bagi investor yang berinvestasi dalam sekuritas-sekuritas pasar uang seperti perbankan deposito jangka pendek di negara asal mereka adalah suku bunga yang ditawarkan oleh sekuritas-sekuritas tersebut. Sedangkan jika para investor berinvestasi di luar negara asal maka pengembalian aktual mereka tergantung, bukan hanya saja pada suku bunga luar negri saja tapi juga pada persentase perubahan nilai valuta asing pada suku bunga luar negeri. Dari penjelasan tersebut ketika seorang berinvestasi pada negara asal maka mereka akan mendapat pengebalian suku bunga yang di tetapkan oleh sekurita-sekuritas tersebut tetapi jika mereka berinvestasi di uar negeri pengembalian mereka tergantung pada nilai tukar di negaranya dengan di luar negeri. Ini merupakan sebuah resiko bagi investor yang meakukan investasi di luar negeri.
                       
ih= suku bunga dalam negeri
if= suku bunga luar negeri
ef= nilai valuta asing
jika ih>if, ef akan positif.  Yaitu valuta asing mengalami apresiasi pada suku bunga luar negeri lebih rendah dari pada suku bunga domestik. Apresiasi ini akan meningkatkan pengembalian luar negeri terhadap investor domestik. Maka membuat pengembalian sekuritas-sekuritas luar negeri sama dengan sekuritas-sekuritas domestik. Begitu pula kebaliknya jika suku bunga nominal domestik lebih kecil dari suku bunga nominal luar negeri perubahan valuta saing menjadi negatif, maka valuta asing mengalami depresiasi pada saat suku bunga luar negeri melampaui suku bunga domestik. Akibat dari depresiasi ini mengurangi pengembalian dari sekiritas-sekuritas luar negeri atas sekuritas-sekuritas domestik dari perspektif investor domestik. Ini artinya pengembalian sekuritas luar negeri tidak lebih baik dari pengembalian sekuritas domestik.
2.2.2 Analisis Grafik IFE
Jika titik-titik aktual dari suku bunga perubahan nilai tukar di plot pada grafik, kita bisa menentukan apakah titik –titik tersebut secara rata-rata berada dibawah garis IFE (ini menyiratkan bahwa investasi luar negeri memberikan excess return) atau berada di sekitar garis IFE (ini menyiratkan bahwa investasi luar negeri kadang-kadang memberikan excess return tetapi kadang-kadang memberikan tingkat pengembalian yang rendah juga) atau jika berada diatas garis IFE (ini menyiratkan bahwa investasi luar negeri menghasilkan pengembalianyang lebih rendah relatif terhadap suku bunga domestik).
2.3 Perbandingan Antara Teori PPP,IRP dan IFE
Paritas Suku Bunga(IRP)
1 premium diskon(Kurs forward)
2 selisih suku bunga
Kurs forward suatu valuta dalam hubungannya dengan valuta lain akan mengandung premium atay diskon seuai selisih suku bunga antara 2 negara. Karenanya covered interest rate tidak akan memberikan pengembalian yang lebih baik dari pada pengembalian domestik
Paritas Daya Beli(PPP)
1 persentase perubahan kurs spot
2 selisih inflasi
Kurs spot dari suatu valuta dalam hubungannya dengan valuta ain akan berubah sebagai reaksi terhadap laju inflasi antara dua negara. Konsekuensinya daya beli konsumen pada saat memebli barang didalam negerinya sendiri akan sama dengan daya beli mereka paa saat mengimpor barang dari luar negeri


Dampak Fisher  International(IFE)
1 persentase perubahan pada kurs spot
2selisih  suku bunga
Kurs spot dari valuta dalam hubunganya dengan valuta lain akan berubah sesuai dengan selisih suku bunga antar dua negara konsekuensinyya dari persepektif investor dalam negeri pnfgembalian dari sekuritas-sekuritas pasar uang luar negeri secara rata-rata tidak akan lebih baik dari dibanding pengembalian dari sekiritas-sekuritas pasar uang dalam negeri

Teori ini tidak berjalan dengan baik jika faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar selain inflasi. Seperti misalnya kebijakan pemerinta,tingkat pendapatan,ekspektasi dan interaksi antar faktor. Ketika semua faktor ini terdapat dalam suatu negara maka akan sulit berjalannya teori ini.
BAB III
KESIMPULAN

3.1         Kesimpulan
Teori Purchasing Power Parity menyatakan bahwa tingkat inflasi Dapat mempengaruhi nilai tukar mata uang. Teory dampak fisher internaional  menyatakan bahwa suku bunga Dapat mempengaruhi nilai tukar mata uang. Berdasarkan teori Purchasing Power Parity dan Teory dampak fisher internaional maka tingkat inflasi dan suku bunga di suatu negara mempunyai Pengaruh terhadap nilai tukar mata uang. Kedua faktor tersebut dapat berinteraksi sehingga menimbulkan pengaruh yang lebih besar terhadap nilai tukar mata uang. Sebagai contohnya, perubahan perbedaan inflasi dapat mempengaruhi perbedaan suku bunga. Dengan adanya perubahan perbedaan inflasi dan suku bunga maka nilai tukar mata uang akan cenderung menyesuaikan dengan keadaan tersebut.













                                             



                          Daftar Pustaka

Madura, Jeff. 2006. International Corporate Finance. Terjemahan. Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.
.