MAKALAH MANAJEMEN RESIKO USAHA
TENTANG
PRINSIP PRINSIP PENGUKURAN
DISUSUN OLEH :
BAIHAQI
1402120128
FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH ACEH
BANDA ACEH 2016
Daftar Isi
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadiran
Allah Yang Maha Esa atas karunia serta hidayah-Nya, sehingga saya bisa
menyelesaikan makalah ini. Makalah ini merupakan salah satu tugas yang
diberikan oleh dosen mata kuliah Manajemen Resiko Usaha. Makalah ini
membahas tentang “Prinsip Prinsip Pengukuran Resiko ”.
Tersusunnya makalah ini tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak, oleh karena
itu saya mengucapkan terimakasih kepada dosen Yaitu : SAYED LUTFI selaku dosem
Manajemen Resiko Usaha serta rekan-rekan yang telah membantu hingga
tersusunnya makalah ini.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai banyak kekurangan, oleh karena
itu saya mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini. Semoga apa
yang saya sampaikan dalam makalah ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat
bagi siapa saja yang membacanya.
Penyusun:
Banda Aceh 17/03/2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia yang semakin
berkembang ini, sudah pastinya kita sudah sering kali mendengar kata Risiko
dalam kehidupan sehari-hari kita. Risiko
merupakan bagian dari kehidupan kerja individual maupun organisasi. Berbagai macam risiko, seperti risiko
kebakaran, tertabrak kendaraan lain di jalan, risiko terkena banjir di musim
hujan dan sebagainya, dapat menyebabkan kita menanggung kerugian jika
risiko-risiko tersebut tidak kita antisipasi dari awal. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian
atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.
Sebagaimana kita pahami dan sepakati bersama bahwa tujuan perusahaan adalah
membangun dan memperluas keuntungan kompetitif organisasi.
Risiko berhubungan dengan
ketidakpastian ini terjadi karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi
tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu
yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Menurut Wideman, ketidakpastian yang menimbulkan
kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity),
sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan disebut dengan
istilah risiko (risk). Dalam beberapa
tahun terakhir, manajemen risiko menjadi trend utama baik dalam perbincangan,
praktik, maupun pelatihan kerja. Hal ini
secara konkret menunjukkan pentingnya manajemen risiko dalam bisnis pada masa
kini.
Oleh sebab itu risiko
sangat perlu diolah karena risiko mengandung biaya yang tidak sedikit. Bayangkan suatu kejadian di mana suatu
perusahaan sepatu yang mengalami kebakaran.
Kerugian langsung dari peristiwa tersebut adalah kerugian finansial
akibat asset yang terbakar (misalnya gedung, material, sepatu setengah jadi,
maupun sepatu yang siap untuk dijual).
Namun juga dilihat kerugian tidak langsungnya, seperti tidak bisa
beroperasinya perusahaan selama beberapa bulan sehingga menghentikan arus
kas. Akibat lainnya adalah macetnya
pembayaran hutang kepada supplier dan kreditor karena terhentinya arus kas yang
akhirnya akan menurunkan kredibilitas dan hubungan baik perusahaan dengan
partner bisnis tersebut.
Risiko dapat dikurangi
dan bahkan dihilangkan melalui manajemen risiko. Peran dari manajemen risiko diharapkan dapat
mengantisipasi terjadinya risiko yang sangat berlebihan yang dapat membuat
perusahaan gulung tikar, oleh sebab itu kita perlu melakukan ha-hal yang lebih
terarah, salah satunya dengan mengukur dimensi risiko yang akan terjadi pada
diri sendiri pada khususnya dan pada perusahaan pada umunya.
B. Batasan Masalah
Dalam makalah ini penulis
membatasi permasalaha yang akan disajikan dimana hanya mencakup tentang :
1. Bagaimana dimensi resiko yang harus
diukur…?
2. Bagaimana menentukan tingkat
kerugian…?
3. Bagaimana mengukur risiko dengan
distribusi propabilitas…?
4. Bagaimana konsep propabilitas...........?
5. Bagaimana taksiran tentang
propabilitas…?
C. Tujuan
Pada batasan masalah yang
ada, maka penulis dapat mengambil sebuah sinopsis bahwa tujuan dari penulisan
makalah ini adalah untuk mengetahui cara pengukuran Risiko.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dimensi Risiko Yang Diukur
Setelah manajer risiko
mengidentifikasi berbagai jenis risiko yang dihadapi perusahaan, maka
selanjutnya risiko itu harus diukur. Jadi perlunya adanya pengukuran risiko
disebabkan karena untuk menentukan relatif pentingnya dan untuk memperoleh
informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen
risiko yang tepat untuk menanganinya. Dimensi yang harus diukur yang berkenaan
dengan dua dimensi risiko yaitu:
1. Frekuensi atau jumlah kerugian yang
akan terjadi.
2. Keparahan dari kerugian tersebut.
Sehingga ketika kita
melakukan pengukuran tersebut maka dapat diketahui hasil dari identifikasi
tersebut yaitu:
1. Rata-rata nilainya dalam periode
anggaran.
2. Variasi nilai dari satu periode
anggaran ke periode anggaran sebelum dan berikutnya.
3. Dampak keseluruhan dari
kerugian-kerugian itu jika seandainya
kerugian tersebut ditanggung sendiri.
Kedua dimensi ini
sangatlah penting dikarenakan dimensi itu diperlukan untuk menilai relatif pentingnya
suatu exposure terhadap kerugian potensial. Berlawanan dengan pendapat
kebanyakan orang, pentingnya suatu exposure bagi kerugian tergantung sebagian
besar atas keparahan kerugian potensial itu, bukan pada frekuensi potensial.
Suatu kerugian potensial dengan kemungkinan catastropic, walaupun jarang
terjadi, adalah jauh lebih parah daripada yang sering terjadi, tetapi hanya
menimbulkan kerugian kecil saja. Sebaliknya frekuensi kerugian tidak bisa
diabaikan. Jika dua exposure ditandai oleh keparahan kerugian yang sama, maka
exposure yang frekuensinya lebih besarlah yang seharusnya dimasukkan dalam
ranking yang lebih penting.
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam dimensi pengukuran tersebut antara lain :
1. Orang umumnya memandang bahwa dimensi
kegawatan dari suatu kerugian potensial lebih penting dari pada frekuensinya.
2. Dalam menentukan kegawatan dari suatu
kerugian potensial seorang Manajer Risiko harus secara cermat memperhitungkan
semua tipe kerugian yang dapat terjadi , terutama dalam kaitannya dengan
pengaruhnya terhadap situasi finansial perusahaan
3. Dalam pengukuran kerugian Manajer
Risiko juga harus memperhatikan orang , harta kekayaan atau exposures yang
lain, yang tidak terkena peril.
4. Kadang kadang akibat akhir dari peril
terhadap kondisi finansial perusahaan lebih parah dari pada yang diperhitungkan
, antara lain akibat tidak diketahuinya atau tidak diperhitungkannya
kerugian-kerugian tidak langsung.
5. Dalam mengestimasi kegawatan dari
suatu kerugian penting pula diperhatikan jangka waktu dari suatu kerugian,
disamping nilai rupiahnya.
B. Menentukan Tingkat Kerugian ( keparahan )
Dalam menentukan
keparahan kerugian, manajer harus berhati-hati untuk memasukkan semua kerugian
yang mungkin bisa terjadi sebagai akibat suatu peristiwa tertentu, sebagaimana
dampaknya yang terakhir terhadap keuangan perusahaan yang bersangkutan.
Dampak keuangan terakhir dari suatu
kerugian bahkan mungkin pula terabaikan dalam mengevaluasi nilai rupiah dari
sesuatu kerugian. Keparahan kerugian juga akan tergantung pada jumlah unit yang
terkena kerugian. Misalnya suatu
perusahaan mempunyai beberapa gudang yang letaknya berdekatan, maka
kerugian akan lebih parah karena satu peristiwa kebakaran saja bisa
menghabiskan ketiga gudang itu.
Kerugian rata-rata ini dapat
dibandingkan dengan premi asuransi yang harus dibayar, jika perusahaan itu
minta perlindungan asuransi.
C. Pengukuran Resiko Dengan Distribusi Probabilitas
Distribusi probabilitas menunjukkan
probabilitas kejadian bagi masing-masing outcome yang mungkin. Karena outcome
itu merupakan mutuallly exclusive, maka
semua probabilitas itu jika dijumlahkan sama dengan satu.
Tiga macam distribusi probabilitas
menunjukkan outcome :
1. Total kerugian per tahun ( atas
periode budget)
2. Banyak kejadian per tahun
3. Kerugian per kejadian
Untuk menggambarkan ketiga jenis
probabilitas itu, kita akan mempertimbangkan contoh tentang kerugian tabrakan
mobil :
a) Total kerugian harta langsung ( tidak
termasuk kerugian net income, liability loss, atau personal ) yang mungkin akan
dialami perusahaan yang disebabkan oleh tabrakan armada atau pengangkutan.
b) Banyaknya tabrakan per tahun.
c) Total kerugian harta per tabrakan.
Contoh kerugian ini berkenaan dengan
satu jenis kerugian untuk semua unit
yang dihadapkan pada kerugian dengan satu penyebab ( tabrakan ).
Distribusi probabilitas bisa dibangun untuk berbagai kombinasi daripada:
1. Jenis kerugian
2. Unit-unit yang mengalami exposure (
kemungkinan merugi )
3. Penyebab kerugian
Akhirnya, untuk kebanyakan keputusan
manajemen resiko, sebaiknya juga membangun distribusi probabilitas untuk total
kerugian sesudah pajak dan distribusi probabilitas kerugian sesudah pajak pada
setiap kejadian.
D. Konsep Propabilitas
Probabilitas merupakan kesempatan
atau kemungkinan terjadinya suatu kejadian atau kemungkinan jangka panjang
terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan. Dalam menjelaskan konsep mengenai
probabilitas kita awali dengan menggunakan konsep sample space dan even.
Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :
Jika Tanpa Bobot maka rumusnya : P (
E ) = dan apa bila
Dengan Bobot maka rumusnya : P ( E )
=
Dimana :
P(E) = probabilitas terjadinya event
E
= sub set atau event
S = sample space atau set
W
= bobot dari masing-masing event
Jadi perlu diketahui bahwa asumsi
dalam Probabilitas mencakup :
1. Bahwa kejadian atau event tersebut
akan terjadi
2. Bahwa kejadian-kejadian tersebu
tadalah mutually exclusive, artinya dua peristiwa tidak akan terjadi secara
bersamaan
3. Bahwa pemberian bobot pada
masing-masing peristiwa dalam set adalah positif , sebab besarnya probabilitas
akan berkisar antara 1 dan 0, dimana peristiwa yang pasti terjadi
probabilitasnya 1, sedangkan peristiwa yang pasti tidak terjadi probabilitasnya
0.
Jadi Aksioma Definisi Probabilitas
yaitu :
1. Probabilitas adalah suatu nilai /
angka yang besarnya terletak antara 0 dan 1, yang diberikan pada masing-masing
peristiwa.
2. Jumlah hasil penambahan keseluruhan
probabilitas dari peristiwa-peristiwa yang mutually exclusive dalam sample
space adalah 1.
3. Probabilitas suatu peristiwa yang
terdiri dari sekelompok peristiwa yang mutually exclusive dalam suatu set
(sample space ) merupakan hasil penjumlahan dari masing-masing probabilitas
yang terpisah.
E. Panafsiran Tentang Propabilitas
Tafsiran yang pertama
yaitu timbulnya tafsiran tentang probabilitas 1/10.
Penafsiran tersebut berdasarkan :
1. Misalnya saja gudang. Gudang yang
dikatakan sama atau serupa pada kenyataannya tidak pernah persis serupa.
Misalnya walaupun sama tetapi berbeda lokasi, konstruksinya dan perawatannya.
2. Kondisi bisa berubah peninjauan masa lalu itu menyediakan sebagaian dasar
untuk suatu penafsiran probabilitas kerugian.
Penafsiran yang kedua sangat berfaedah dalam menetapkan
tindakan yang diambil berkenaan dengan exposure tersebut:
1. Peristiwa yang saling pilah ( mutually
exclusive event)
Dua peristiwa yang dikatakan saling
pilah adalah apabila terjadinya peristiwa yang satu menyebabkan tidak
terjadinya peristiwa yang lainnya.
2. Compound event Adalah terjadinya dua
atau lebih peristiwa terpisah selama dalam jangka waktu yang sama.metode untuk
menentukan suatu compound outcome tergantung atas apakah outcomes terpisah itu
merupakan peristiwa yang bebas.
3. peristiwa bersyarat ( conditional
outcomes ) Bagaimana jika dua peristiwa yang terpisah itu tidak bebas maka
perhitungan compound probabilitas lebih rumit.
4. Peristiwa yang insklusif,
Misalkan kita berhadapan dengan dua atau
lebih peristiwa yang tidak mempounyai hubungan saling pilah dan kita
menginginkan mengetahui probabiklitas terjadinya paling sedikit satuc peristiwa
diantara dua peristiwa atau lebih itu. Jika peristiwa itu lebih dari dua maka
proses perhitungannya lebih rumit. Maka dari itu disini akan disajikan hanya
probabilitas bahwa paling sedikit satu
dari peristiowa tersebut itu yang akan terjadi. Jika peristiwa A dan peristiwa
B merupakan peristiwa yang terpisah, maka probabilitas terjadi paling sedikit
satu peristiwa adalah jumlah kedua probabilitas terjadinya A atau B dikurangi
dengan probabilitas terjadinya kedua peristiwa tersebut : P ( A atau B ) = P
(A) + P (B) – P ( A atau B ).
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Adapun simpulan yang dapat ditarik
dari makalah ini yaitu :
1. Dimensi yang dikuru meliputi
Frekuensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi dan Keparahan dari kerugian
tersebut.
2. Dalam menentukan tingkat kerugian
merupakan hak progratif dari seorang maneger risiko.
3. Pengukuran Resiko Dengan Distribusi
Probabilitas jika dijumlahkan sama dengan satu
4. Dalam menjelaskan konsep mengenai
probabilitas kita awali dengan menggunakan konsep sample space dan even.
5. Tafsiran yang pertama yaitu timbulnya
tafsiran tentang probabilitas 1/10 dan Penafsiran yang kedua sangat berfaedah dalam menetapkan
tindakan yang diambil berkenaan dengan exposure tersebut.
B. Saran
Sebagai manusia yang tidak pernah
lepasa dari kesalahan, tentu saja dalam makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki.
Oleh karena itu penulis mengharapkan
saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca, serta dosen pengajar
demi kelayakan makalah ini dan berbesar hati memaafkan kekurangan dan kesalah
penulis dalam makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Darmawi Herman. 2005. Manajemen
Risiko dan Asuransi, Universitas Bina Nusantara edisi revisi. Bima
http://ensikloditya.blogspot.com/2011/03/resume-buku-manajemen-resiko.html
http://setyaningsih403.wordpress.com/2008/09/04/materi-i-konsep-dasar-probabilitas/
http://ariefharahap.blogspot.com/2011/11/manajemen-resiko.html
Silalahi Ferdinan. 2006. Manajemen
Resiko dan Asuransi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Damawi Herman. 2000. Manajemen
Resiko. Bumi Aksara. Jakart

Tidak ada komentar:
Posting Komentar